Selasa, 18 November 2008

Manajemen Isu


Menarik untuk dipelajari lebih jauh karena tema ini sebenarnya akrab dengan keseharian kita, namun disebabkan oleh lemahnya daya analisa dan kekritisan kita terhadap sebuah permasalahan menjadikan kita sebagai korban “Isue”.

Dan mungkin masih banyak isue yang dihembuskan oleh kelompok-kelompok yang tidak ingin KAMMI sebagai sebuah Organisasi massa exsis dalam percaturan lokal maupun nasional. Ada yang berhasil tetapi ada yang dengan Izin-NYA semuanya menjadi positif bagi pertumbuhan kita.

Nabi Muhammad SAW dan Manajemen Isu

Dalam perkembangan Da’wah Islam, mengambil beberapa pengalan sejarah nabi SAW, isue yang diciptakan oleh musuh-musuh islam waktu itu seperti memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penomena wahyu dalam kehidupan Nabi SAW. Berbagai argumentasi mereka kerahkan untuk menolak kebenaran wahyu, dan membiaskan dengan Ilham(Inspirasi), dan bahkan dengan sakit ayan. Tetapi sejarah membuktikan hanya dengan Izin-Nya semua berbalik menjadi isue yang positif bagi Nabi SAW dan perkembangan Islam. Tujuan yang jelas untuk tegaknya hukum Allah di muka bumi, pengkaderan dan pembagian tugas yang jelas, Nabi SAW memimpin setiap proses dengan tuntas dan kontrol yang kuat terhadap semua sahabat.

Dalam siroh Nabawiyah buah kejujuran selama empat puluh tahun bergaul dengan kaumnya mampu membuka hati kaumnya akan nilai-nilai kebenaran yang dibawa. Ketika Nabi Muhammad harus Hijrah dan memulai peperangan dengan kaum kafir Qurais terlihat sekali lagi pentingnya sebuah isue dibuat. Sejarah mencatat banyak warga Madinah saat itu yang belum pernah bertemu Nabi SAW menantikan datangnya beliau dengan sepenuh hati sebagai buah dari kerja keras utusan-utusan yang datang sebelumnya membawa berita kebaikan dari Nabi SAW. Pentingnya sebuah kemasan isue sehingga layaknya petir diudara kecepatan cahaya nya lebih dulu bisa kita lihat sebelum kecepatan suaranya lebih-lebih mengelegarkan kita.

Isue yang tercipta mendengar kemenangan-kemenangan pasukan Nabi SAW yang berjumlah kecil mengalahkan raksasa-raksasa padang pasir terdengar di hampir seluruh semenanjung arab dan kerajaan-kerajaan besar dunia lainya. Mengoncangkan dan memberikan rasa was-was pada para penguasa Zalim. Ajakan Islam dalam kehidupan yang lebih baik, kita coba mengambil contoh kasus perbudakan yang saat itu masih merupakan hal yang wajar, Islam dengan kebersihan ajarannya menjadikan pembebasan perbudakan menjadi prioritas. Mucullah mantan-mantan budak yang kemudian menjadi pembela agama terdepan seperti BILAL. Penaklukan-penaklukan ini trus berlanjut hingga masa-masa khalifan Islam hingga bukan rahasia lagi banyak umat lain yang merasa senang berada dalam pemerintahan Islam yang adil.

Sebagai kelompok Intelektual muslim sejarah merupakan salah satu pembentuk kepribadian kita. Kemampuan memahaminya dalam segala aspek kehidupanya membuat kita menjadi bagian dari kekuatan umat Islam. Membaca buku-buku kolonialisme barat ternyata untuk menkampanyekan diri mereka sebagai bangsa ”baik” kepada daerah jajahanya butuh waktu yang tidak sedikit. Bukan hanya Serdadu dan pendeta yang dikerahkan oleh pemerintahan kolonial tetapi juga ribuan ilmuan yang disuruh mempelajari sejarah, adat istiadat dan tingkah laku masyarakat daerah jajahan. Seorang teman pernah membaca buku yang ditulis Sir Thomas Rafles, Lima tahun pemerintahan Inggris di Indonesia banyak adat istiadat yang mampu direkam olehnya untuk kepentingan penguatan pengarush pada masyarakat, seperti makanan, kebiasaan mengadakan acara, kebiasan bangsawan, rakyat biasa hingga alat-alat yang digunakan oleh masyarakat. Kolanialisme Belanda yang lebih lama mengumpulkan hampir seluruh karya anak indonesia dari masa kemasa ”bukan hanya untuk belajar sejarah”. Kebiasan yang terekam oleh para penjajah menjadi bahan untuk terus menciptakan Isu Kami Bangsa yang ”Baik”

Bagaimana KAMMI menciptakan Isu

  1. Tujuan yang jelas; menciptakan sebuah isu bagi KAMMI jelas tujuannya untuk turut serta menegakan hukum Allah SWT di muka bumi.
  2. Perencanaan yang jelas; merencanakan sebuah isue seperti layaknya merencanakan apa saja dalam hidup kita. Sejarah keberhasilan dan kegagalan isu yang sama sebelumnya, keberhasilan yang akan kita capai, tanggapan masyarakat maupun internal organisasi kita, kemajuan aktual yang dicapai diukur dari berbagai segi contohnya isu korupsi berapa Rupiah uang negara yang akan kita selamatkan, dan yang tak kalah penting berapa waktu dan SDM kita yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dan sasaran untuk mengetahui kerugian, kerugian yang akan ditimbulkan. Misalnya isu yang ingin kita angkat harus mengerahkan 100% SDM kita termasuk orang-orang yang selama ini konsentrasi pada kaderisasi sehingga menyebabkan mandeknya kaderisasi dan hal lain yang penting untuk menghindari kerugian pada organisasi dalam jangka pendek maupun panjang.
  3. Pengorganisasian yang Jelas; Organisasi mahasiswa yang sakit adalah ketika sang ketua tak lebih sebagai pemadam kebakaran yang harus mondar-mandir memadamkan pekerjaan yang tidak selesai pada masing-masing deprtemen dan bironya. Masing-masing departemen atau biro tidak punya alat pemadam sendiri atau celakanya tersedia tetapi tidak mampu mengunakannya. Kalau dalam organisasi kami menyebut orang-orang yang telah diberi amanah tidak mau belajar dan mengunakan amanahnya untuk mencapai tujuan dan sasaran yang jelas.
  4. Pelaksanaan Yang Jelas; Siapa dalang, siapa wayang, siapa penonton. Semua harus jelas, jangan sampai dalang berubah jadi wayang atau lebih celaka jadi penonton atau minimal bermental penonton, ”jadilah KAMMI korban bukan Penyelamat”. Dalam Organisasi Islam lebih terhormat dari sekedar cerita wayang. Sang Pemimpin berserta kelompok ”Elite” bertugas menyusun perencanaan yang jelas dan mampu dipahami oleh anggota. ”Mulailah ketika Sudah Siap”, tepat pada saat peluang itu ada, dengan prioritas yang terencana, terukur.
  5. Pengawasan yang akurat; banyak isu gagal masuk ketahap selanjutnya karena sifat lamban mengevaluasi setiap pekerjaan kita, apalagi bila pekerjaan itu memerlukan jangka panjang. Evaluasi adalah kerja pemimpin, minimal kepala Biro ataupun Departemen atau kepala unit tugas yang dibentuk.

MEDIA EFEKTIF PENYEBARAN ISU BAGI Organisasi MAHASISWA

  1. Mulut Kemulut; keuntungannya adalah sumbernya tidak diketahui dan biasnya cukup besar, ini sangat bagus untuk kasus-kasus kriminal untuk membuat sang pelaku dihakimi secara sosial oleh masyarakat atau minimal menjatuhkan citra institusi ataupun orang tertentu.
  2. Selebaran; keuntunganya masyarakat lebih jelas akan maksud kita dan siapa kita tahap media seperti ini baik saat citra kita perlu ditumbuhkan dengan efek yang lebih luas.
  3. Media Massa, keuntungan untuk sebuah isu yang kita butuhkan pengaruhnya lebih luas saat masyarakat sudah banyak yang mendukung kita.

Michael Adams, Training Kehumasan KAMMI daerah Kaltim16 November 2008 (michael_adams@ymail.com)

Tidak ada komentar: