
Saya pernah membaca cerpen tentang kisah kepahlawanan, cerita seorang pejuang Andalusia yang dipenjara oleh pemerintahan yang berkuasa. Dalam cerpen itu dikisahkan tentang penyiksaan seorang Ustad oleh sipir penjara dengan sangat kejam. Hingga suatu hari ketika sang sipir yang begitu gagah perkasa akhirnya mampu menumpahkan air mata disebabkan ia terkenang sesuatu dimasa kecilnya.
Lantunan ayat-ayat alQur'an yang di kumandangkan sang Ustad yang selalu disiksanya setiap hari mengingatkan masa kecilnya, saat orang tua yang dicintainya pernah begitu kuat mengajarkan lembar demi lembar.
Zaman berubah ia menjadi seorang pemuda tanpa bimbingan dan tujuan yang jelas, jadilah ia manusia yang punya kelas pada zaman dan lingkunganya. Tetapi nilai-nilai kebenaran, kemanusiaan, hilang dari hidupnya.
Sampai pada kenangan itu kembali (atau hidayah kembali pada-NYa) bahwa yang telah disiksanya adalah saudara satu akdidah dengan ayahnya, seorang yang layak dipanggilnya "GURU" atau mungkin "AYAH"
Kenapa Saya memulai dari sini, 1 Januari 2009 pukul 00.00 saat langit bergemuruh dengan Kembang api dan bunyi sirene saut-bersaut
Saya kemudian bertanya dalam hati, layakkah saya menikmati malam ini saat ?
Saat beberapa hari ini kita disuguhkan sebuah berita mencengangkan saat saudara-saudara seakidah kita meregang nyawa mempertahankan kemuliaan melawan Agresi Bangsa Kera Zionis.
Saat Akrobatik udara zionis tanpa perlawanan di Gaza yang tak bersenjata imbang.
Saat Mereka membutuhkan tidur sedangkan kita membutuhkan terjaga hanya untuk menghabiskan tenaga dan sedikit harta.
Saya teringat guru-guru ngaji yang selalu didatangkan Ayah ke rumah, Masih ada sebait kata yang cukup menyentuh "Tidak Beriman Seorang muslim jika melihat saudaranya terzolimi dia tidak melalukan sesuatu" dengan lantangnya guru-garu kami berseru.
Semoga kita tidak seperti cerita seorang pemuda dalam cerpen. Terlalu banyak kebodohan yang dilakukan karena pendidikan yang salah dan tak pernah mencari tau kebenaran karena sibuk dengan materi.
Warna hidup tentu sedahlah jelas, hiburan adalah sebuah kebutuhan batin sampai kita memilih mana yang layak untuk sebuah identitas diri.
Bergabunglah bersama saudara-saudara kita yang terzolimi
bukan untuk membagi stiker Caleg yang sudah banyak terbuang percuma....
atau baliho yang cuma tertulis " Pilih No sekian dari partai ANU" yang seharusnya ditambah kata galang dukungan dan bantuan dana Untuk saudara kita yang terzolimi...
Atau Festival Musik yang berubah menjadi ajang mengalang dana dan opini
atau Pesta jagung bakar yang berubah menjadi diskusi dan persiapan aksi untuk membantu saudara kita yang terzolimi.
atau konvoi jalanan yang berubah menjadi sebuah aksi massa untuk menunjukan pada dunia bahwa kita adalah saudara mereka yang terzolimi.
Mari Bekerja Bersama untuk Kemulian...
Mari Megukur diri dengan prilaku...
Semoga ALLAH SWT masih memberi kita hidayah untuk berada pada kebenarannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar