Kamis, 25 Agustus 2016

Dasar Kepemimpinan Umat

Masa kita adalah sekarang, sebuah ungkapan lugas yang musti kita pahami bersama sebagai sebuah motivasi berdikari dan bermasyarakat. Bicara masa maka banyak hal yang menarik yang perlu di terjemahkan. Masa bagi seorang manusia hampir semua pasti sepakat berbicara mulai dari kelahiran hingga kematian tetapi ada juga yang menambahkan dengan hari akhir hingga surga atau Nirwana.
Jika berbicara kekuasaan maka masa adalah rentang waktu kekuasaan dan pernak pernik karya yang dibuat baik aturan hukum ataupun bangunan megah sebagai simbol keberhasilan. Sederet prestasi dan invasi yang diakui kawan maupun lawan.
Kesempatan kali ini sebuah hukum yang ingin saya tuliskan, bagi seorang muslim jawabannya sederhana hukum bersumber dari Alquran dan sunnah, baru kemudian fatwa fatwa ulama yang selalu berkiblat kembali kepada Alquran dan sunnah. Kalau ada manusia yang bernama muslim masih memperdebatkan hal ini maka saya cuma menyarankan di kartu tanda penduduknya untuk di tambah “ muslim yang tak percaya Allah dan Rasullulah”
Dalam kepemimpinan moderen apakah Alquran sudah tidak layak lagi di jadikan patokan hukum, bagi ahli hukum yang sombong atau tak pernah belajar Alquran secara utuh dengan realitas sosial masyarakat yang ada maka hasil penelitian dianggap sebagai sebuah hal yang mengada-ada, Alquran dianggap naskah kuno ya ketinggalan jaman mengatur manusia.
Lain pula dengan Hadist Nabi, siang malam di perdebatkan oleh para pemimpin muslim mengenai hukum dan aturan sosial apakah relevan atau tidak sementara kelakuan sehari harinya masih makan berdiri, minum Khamar dan Berzina. Wajar kemudian peraturan yang keluar lebih dari pada kepentingan sahwat semata ketimbang membenahi tatanan masyarakat. Mereka lupa para Imam Hadist setengah mati mengumpulkan perkataan Rasullulah dari mulut mulut muslim yang pernah bertemu para sahabat yang pernah bertemu Rasullulah. Walau mungkin Hadist itu benar tapi sang Imam melihat tabiat orang tersebut sangat jauh dari sunnah mereka lebih memilih untuk tidak membukukan. Azas kehati-hatian sangatlah di gunakan, berbeda dengan pembuat hukum di zaman ini. Saat dimintai pendapat bukan sumber Illahi melalui lisan Rasulullah yang digunakan tapi lebih kepada nafsu berpendapat pribadinya.
Jadi zaman ini tak usah ragu mengatakan pimpinan umat sesat dan menyesatkan jika aturan yang terbukti belasan abad dalam membina umat Islam di salahkan diganti dengan metode baru yang teruji pun belum. Melihat pemimpin sederhana saja sunnah yang dasar saja bisa dia lakukan atau tidak, jika tidak jangan dengarkan kata katanya apalagi mengikuti hukum yang di buatnya, bukan penataan yang terjadi tapi kehancuran yang menjadi.

Selamat belajar mengaji dengan guru yang baik dan jangan lupa selalu memohon kepada Allah di berikan kebenaran yang hakiki hingga saat kita menjadi pemimpinpun kita akan menjadi pemimpin sejati yang selalu mendapat ilham kebenaran.

Tidak ada komentar: