Pertama kali menjajakan kaki di kota Samarinda di sekitar tahun 1980-an kebetulan sekali seorang paman tinggal di Jalan Rumbia. Jembatan seperti ni masih banyak kala itu. Saat ini hanya satu yang tersisa. Pernah saya ngobrol dengan Alm. Pak Dicky (mantan Anggota DPRD Samarinda) jembatan ini memang sengaja untuk dipertahankan sebagai bagian dari sejarah kota.
Cukup jarang memang saya melintasi jembatan ini, paling banyak 1 bulan sekali tapi ada kesan yang kurang ketika saya melintasnya.
Ingin membangun sebuah wisata sejarah tentang pertumbuhan sebuah kota seharusnya di buat semaksimal mungkin. Beberapa saran untuk pemerintah kota : pertama, pengaturan kendaraan yang melintas seharusnya hanya untuk kendaran roda dua untuk menjaganya menjadi lebih kokoh, kedua pembenahan beberapa bagian yang rusak dan menghiasinya dengan lampu-lampu cantik beronamen khas kaltim. Semoga suatu saat nanti ketika kita melintasinya terasa suasana yang berbeda pada jembatan Kayu Ulin ini seperti negri china yang masih melestarikan jembatan jembatan batu yang dihiasi lampion-lampion yang cantik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar