Beberapa hari yang lalu saat seorang teman meyodorkan sebuah polling mengenai potensi daerah untuk diisi, banyak pertanyaan yang mengelitik untuk di jawab. Kebetulan berdomisili di sebuah propinsi yang katannya termasuk kaya di Indonesia yakni Kalimantan Timur.
Agak susah-susah gampang menjawab pertannyaan diatas, Kaltim nama singkatannya sejak jaman penjajahan terkenal dengan emas hitamnya bukan hanya Minyak bumi tapi juga batu bara. Balikpapan sempat di sebut sebagai Bintang Timur oleh Kolonial Belanda saat perusahan minyak Belanda mulai beroperasi di kota itu. Sebuah kota pelabuhan yang nyaman dengan udara pantai yang segar menjadi tempat santai dan menghasilkan bagi pemerintahan kolonial. Disaat Jepang masuk sama saja tujuannya Sumber energi. Di era baru selain Minyak Bumi dan Batu bara, Emas Hijau jadi "hidangan baru" segelitir orang di negeri ini yang sempat minikmati jayanya hasil hutan berupa kayu dan rotan yang setiap hari berlayar entah kemana an menjadi apa.
Era kayu pun hampir berakhir, masih tersisa beberapa kawasan ya kalou tidak resmi "Ilegal Bahasanya". Saya kira itu bukan mainan baru republik ini seorang gubernur pun di Kaltim sempat terserempet kasus izin perkebunan yang ternyata berubah menjadi Ileggal Logging sebut saja namanya "Suwarna" yang sempat menjadi pemberitaan hangat di tanah air setelah menjadi "korban" Komisi Pemeratasan Korupsi.
Belum selesai permukaannya gundul dan tandus gerakan selanjutnya adalah "exploitasi Batu bara" Besar-besaran di bawah beberapa perusahan Amerika, Australia, Korea dan Teman-temannya sebut saja, Kaltim Prima Coal (KPC), KIDECO, INDOMINCO dan ratusan perusahan kecil yang muaranya cuma satu Industri negara-negara maju. Baru saja sang Gubernur Terpilih Awang Faruk mengunjungi beberapa wilayah pertambangan seperti bekas lahan PT KEM yang terkenal dulu menghasilkan 4 juta ton emas setiap tahunnnya hanya menyisakan lubang besar dan darah mati hampir tanpa sisa-sisa emas yang katanya sangat berharga itu bisa menjadi sebuah cadangan devisa negara, atau KIDECO yang disindir tidak memberi kontribusi pada daerah.
Sebagai anak Kalimantan Timur saya lebih rela kerja rodi pada setiap rezim pemerintah Indonesia untuk menambang hasil bumi ini jika untuk membangkitkan listrik untuk setiap rumah masyarakat indonesia, dari pada hasil bumi ini hanya untuk membangkitkan industri negara asing yang ujung-ujungnya terus menerus menjajah kita dengan pola ekonomi gelobal dan bahasa-bahasa manis HUTANG lainnya.
Terakhir saya cuma mau menjawab pertanyaan diatas dengan sebuah kata sederhana "Harga Diri" itulah potensi daerah ku yang belum terkelola dengan baik, ketika hasil buminya bisa membuat tuan-tuan belanda bisa tersenyum membayar hutang pemerintah belanda waktu itu yang porak poranda akibat perang di erofa atau membuat bangsa lain di dunia hari ini tidak krisis energi sementara daerah ku dan saudaraku yang ada di negeri Indonesiaharus berkumpul di sebuah rumah untuk melihat Bola lampu menyala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar