Selasa, 12 Mei 2009

Wajah Wakil Rakyat KITa Jilid 2

Partai Politik
Sebuah perlengkapan demokrasi moderen yang juga dipakai di Indonesia dengan Nama Partai Politik, Pemilu 2009 ini kembali terjadi Peningkatan peserta partai politik menjadi 44, walaupun 6 nya adalah partai lokal di aceh. Setelah penyelenggara pemilu, Partai Politik terlibat paling penting dalam demokrasi Indonesia. Siapa yang bertanggung jawab pada perundang-undangan, siapa yang paling banyak menjadi kepala daerah dan menteri-menteri di kabinet, atau siapa yang paling rutin bermain mata dengan pengusaha (Beberapa kasus Kolusi yang melibatkan Pengusaha dan DPR yang sudah di vonis termasuk kasus fantastis Al Amin Nasution)
Partai Politik yang menempatkan anggotanya pada DPR hingga DPRD Propinsi, Kabupaten/kota, yang menjadi bagian pembahasan anggaran Pendapatan dan Belanja dari pusat hingga daerah, beberapa oknumnya seperti yang disebutkan diatas yang kemudian merugikan negara, saat ini ketika kita mengevaluasi Pemilu peran wakil rakyat yang mewakili Partai Politik juga dominan mulai dari pembahasan UU hingga seleksi anggota KPU. Setiap pemilihan di gedung dewan selalu saja terhebus kabar kolusi dengan pemberian dana tertentu kepada wakil rakyat di DPR (masih ingat pengaduan Agus Condro F PDIP), wajar kemudian orang-orang yang terpilih kemudian menjadi "duri dalam daging" republik ini. kebijakan yang diambil serat kepentingan kelompok dan golongan hingga ujung keadilan dan kesejahtran itu hanya tingga pada saat pembacaan Visi-misi sang calon.
Partai Politik harus bertangung jawab apalagi yang mayoritas, atau si partai kecil yang selalu setuju dan tidak pernah memberi perlawanan hingga masyarakat tahu. "Tunjuk Hidungnya" itulah harapan kita hingga kita tau siapa mereka, tapi kembali lagi sebelum sempat hidungnya kita tunjuk mereka telah kembali ke Senayan.
Akhirnya saya cuma bisa berkaca dan berkata Partai Politik sadarlah jam sudah lewat 2 pagi dj sudah beristirahat dan tak ada lagi musik sisa pesta hanya bau alkhohol tersisa mengotori baju kemeja mahal, pulanglah nikmati hidupmu biar generasi lain yang meneruskan berpikir untuk negeri saat otakmu sudah berat dan pening.

Tidak ada komentar: