Sabtu, 01 Desember 2012

MENITIKAN LIUR DI TENGAH TERIK MATAHARI

Saat sepoi angin pantai menerpa subuh, wajah sedikit kaku dengan dingin malam yang masih tersisa, tak ada kuasa bangkit dan tidur kembali yang ada harapan untuk bangun dan bekerja.
Tetes demi tetes air membasahi wajah berharap ada kesejukan yg mengairahkan walau seperti kepuasan yang tertahan, ada kenikmatan dan ending yg ditunggu.
Hamparan bibit sawit yang sebagaian menguning tak terurus diterpa musim panas yang bukan tak bersahabat, lebih kepada ketamakan yang berujung kebodohan yang sering di bahasakan "kebodohan berlanjut".
Mentari mulai bersahaja dengan vitaminnya menyapa hangat menguatkan tulang-tulang ku yang lemah semalaman diterpa dingin, ibu-ibu pekerja terlihat lebih sigap ketimbang bapak-bapaknya mempersiapkan diri untuk memulai hari.
Pagi ini pekerjaan dimulai lagi, kelompok penyiram sibuk berebut gembor yang sebagaian terlihat bocor dan tidak layak untuk pakai, sang mandor coba menenangkan dengan sedikit berdalih " sudah nah ka yang itu saja kan tak terlalu jauh dari sumur"
Kapitalisme perkebunan berbicara, sedikit modal banyak untung. Pekerja tak pernah tahu bahwa pemilik kebun belum bangun dari mimpinya setelah semalam sibuk dengan tetesan wine berharga ratusan juta dan kelompok penghibur yang hidupnya tak setenang pekerja kebun. Para pekerja tak pernah sadar bahwa biaya mimpi sang boss bisa menganti jutaan gembor yang rusak dan kenaikan upah untuk mereka.
Tak terasa mentari semakin menyengat, peluh tak sungkan lagi mengalir mengikuti aliran sungai tubuh,  bahasa kemanusian mulai tampak, lelah, emosi dan reaksi tubuh yang mulai tak teratur bukan hanya air yang perlu mengalir di kerongkongan tapi juga sejumput beras yang jadi alasan bekerja di kebun.

Tidak ada komentar: