Panas terik mentari meyiram tubuh, satu persatu tubuh anak manusia menuju sebuah titik yang biasa disebut lahan atau tanah atau watas. Sederhananya permasalahan lahan bukan hanya perseteruan dua bangsa tapi sering juga terjadi dalam sebuah komunitas masyarakat. Di zaman pembangunan seperti sekarang ini, konflik lahan di indonesia semakin marak dan cenderung tak terpecahkan.
Saya coba membawa anda ke bidang yang saya geluti akhir-akhir ini, sebuah permasalahan yang sebenarnya mudah untuk diselesaikan jika semua pihak bisa membuat aturan main dengan jelas. Sesederhana itukah ?
Permasalahan lahan di Indonesia khususnya di Kalimantan Timur bisa diselesaikan jika semua orang kembali ke patokan awan negara ini di buat "demi kesejahtraan". Siapa dan bagaimana ?
Jika semua di kembalikan pada kesejahtran dan kemakmuran segenap tumpah darah Indonesia maka cukup kita uraikan satu persatu dengan semangat kemajuan bangsa.
Pertanyaannya selanjutnya lahan ini akan digunakan untuk apa, pertama kepentingan pertanian dalam arti luas, kedua kepentingan pertambangan dalam arti luas, kepentingan fasilitas umum bangsa dalam arti luas.
Baik lah kita mulai dari pertama "kepentingan pertanian dalam arti luas" untuk siapa dan bagaimana. Yang jadi pertanyaan saya selanjutnya apakah memang lahan di Republik ini telah di bagikan untuk kesejahtran rakyat ?.Kita mulai dari luas areal pertanian yang trus menurun jangan ditanya datanya cukup anda cari di situs situs yang menyediakan ruang pencarian pada komputer anda. Jutru perusahan-perusahan perkebuanan besar yang disinyalir di kuasai bangsa asing. kalau tanya data maka semua pasti benar saja coba anada masuk kedalam dan bertanya pada pekerjanya pasti jawabanya ini dulu punya si A orang dekat bupati atau pengusaha lokal yang kebetulan dekat dengan bupati tapi sekarang sudah di beli pengusaha malaysia atau negara-negara asia lainnya.
Disinilah konflik bermula, jual beli izin yang melanggar aturan investasi asing yang kemudian berimbas kepada kewajiban pengusaha pada program plasma kepada masyarakat. Sebagai contoh berapa banyak pengusaha perkebunan sawit yang konsisten dengan plasma minimal 20% untuk masyarakat sekitarnya dari luas areal yang mereka tanam?. Yang terjadi hari ini adalah mereka menambah luas 20 % lagi untuk dibagi kemasyarakat melalui kredit yang tak trasfaran atau sudah panen pun tak sehektarpun masyarakat di buatkan kebun plasma. Semua akal-akalan, akibannya masyarakat desa protes minta ganti rugi lahan atau plasma yang tak kunjung terealisasi. Kemana aparat negara, kenyang boleh tapi tak boleh lupa baju dan kedudukan itu milik rakyat ada boleh bantu perusahan demi "kemajuan bangsa" tapi kalau harganya terlalu mahal untuk kemakmuran masyarakat luas anda musti hitung lagi kerusakan yang anda buat. apakah anda bagian dari proses pemiskinan masyarakat ? jawabannya jelas (berlanjut)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar